Jakarta, kepadaRopongMedia.id - Menteri Koordinator Perekonomian Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan pada tahun 2026, penerapan bahan bakar etanol asli 10 persen belum resmi berlaku.
Ia mengatakan, kebijakan tersebut merupakan langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis minyak mentah.
Rencananya akan diumumkan oleh Menteri ESDM, dan kami akan mulai menggunakan bensin premium atau blended sebesar 10 persen, kata Zulhas.
Pemerintah akan terus mendorong pengembangan tanaman penghasil etanol dalam skala besar seperti tebu dan singkong.
Kebijakan tersebut, kata Zulhas, bukanlah pilihan sembarangan, melainkan perintah mutlak. Namun hal itu tidak menutup kemungkinan untuk dilaksanakan dengan mempertimbangkan kenyamanan dan kesiapan infrastruktur.
"(Itu) wajib. Kalau kita siap, baru Presiden perintahkan," ujarnya.
Selain itu, Zulhas menegaskan penggunaan campuran etanol 10 persen atau E10 akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Sebab, bahan bakunya berasal dari pertanian lokal seperti singkong, tebu, dan jagung.
Baca selengkapnya:
Dianggap sebagai bensin progresif, namun di negeri ini bahan bakar etanol banyak dikeluhkan warga!
Bahan bakar etanol membuat heboh di Indonesia, Toyota terkejut
Menteri Bahadalia Menteri Bahadalia Bahlil Lahadalia Menteri Penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak merupakan langkah halus yang telah diuji di banyak negara.
Ia mengklaim negara-negara seperti Brasil, Amerika Serikat, India, Thailand, dan Argentina terpaksa menggunakan campuran ini.
“Etanol tidak bisa dikatakan tidak bagus. Buktinya pakai produk tersebut,” kata Kompas.com di acara (JCC), Kamis (9/10/2025).
Selain itu, Bahlil berencana mencampurkan 10 persen bahan bakar yang dikenal dengan nama E10 untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil dan mengurangi impor bahan bakar.
Etanol merupakan salah satu jenis alkohol yang dapat dihasilkan dari sumber pertanian seperti tebu, singkong, dan jagung.
Indonesia sebenarnya sudah mengambil langkah awal dalam memasarkan E5, yakni melalui produk Pertamax green 95 dengan campuran 5 persen. Ke depannya, pemerintah akan meningkatkan Etern Content menjadi E10, namun angka tersebut masih di bawah standar beberapa negara bagian.
Sebagai perbandingan, Amerika telah menerapkan kebijakan wajib E10, dan di sejumlah negara juga telah mencapai E85. Sementara India kini diterapkan di E20, Thailand di E20, Argentina di E22, dan Brazil di E27.
"Tapi di beberapa negara bagian, di beberapa negara bagian produksi etanolnya bagus, ada E100. Jamnya beberapa. Di Brazil," kata Bahli.
Program peningkatan kadar etanol dalam bahan bakar diharapkan dapat memberikan dampak besar dalam mengurangi kebutuhan impor bahan bakar. Selain itu, langkah ini dinilai mendukung upaya transisi menuju energi ramah lingkungan dengan mengurangi konsumsi bahan bakar hingga ratusan.
“Tujuan kita untuk mengurangi impor, etanol ini didapat dari singkong atau tebu. Ini akan menciptakan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus jelas Bahlil,” jelas Bahlil.
(Saepul)
Berita Terkini