Mahasiswa ITB mengembangkan sistem pertanian ‘tiga bersaudara’, sebuah metode budidaya tradisional untuk kondisi tropis

TeropongMedia.id - Bandung Salah satu tantangan terbesar dunia pupuk kronis di Indonesia, mulai dari penurunan produktivitas pangan bagi Pupuk Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Rozdiana Anlina, muncul karena mencuri perhatian Partai Republik.

Idenya tidak hanya memberinya gelar peneliti terbaik tahun 2024-2025, tetapi juga membuka harapan baru terhadap model pertanian berkelanjutan di Indonesia.

Berdasarkan kekhawatiran akan semakin meluasnya monokultur di sebagian besar wilayah, Rostiana memperkenalkan sistem penanaman bibit "tiga bersaudara", sebuah metode penanaman tradisional yang disesuaikan dengan kondisi tropis.

Sistem ini memadukan tumpang sari jagung, kacang panjang, dan labu kuning dalam satu lahan, secara efisien, ramah lingkungan, dan ekologis.

“Pertanian berkelanjutan bukanlah konsep yang jauh. Kalau sistemnya benar, kita bisa menghasilkan pangan sehat,” kata Rosdiana dalam artikel resmi ITB, Jumat (21/11/2025).

Rosdiana, dua rekannya, Paloma Matongan dan Sakura Lailya Sarta-Sarta-Sarta-Saria Sargaria Sudian Sudianchi, di Kawasan Pendidikan Jatinangor, selama enam bulan, menciptakan potensi sinergi tiga tanaman.

Jagung digunakan sebagai penyangga alami, batangnya digunakan sebagai kacang-kacangan, yang mempertahankan kelembapan tanah dan berfungsi sebagai "mulsa hidup" yang dapat menjadi tempat tumbuhnya gulma.

Dan juga:

Mahasiswa ITB ciptakan Korore, inovasi permen jelly kaya multivitamin

Inovasi ini diperkuat dengan penggunaan Vermikompos, yaitu pupuk organik yang terbuat dari cacing tanah yang kaya akan unsur hara dan mikroorganisme. Penyiapan lahan, penaburan, pembibitan, penanaman bertahap, pemeliharaan teknis dilakukan dengan pendekatan organik dengan pestisida nabati.

Namun perjalanan penelitian ini bukannya tanpa hambatan. Memunculkan tiga tanaman dengan ciri pertumbuhan berbeda seringkali tidak dapat diprediksi, apalagi di cuaca Jatinangor.

“Waktu tanam sangat sulit, apalagi cuaca sedang begitu sering,” kata Rosdiana.

Meski begitu, Rosdiana optimistis metode “Tiga Bersaudara” bisa menjadi solusi nyata bagi petani kecil yang memiliki keterbatasan lahan dan modal. Sistem ini dinilai berbiaya rendah, beradaptasi dengan perubahan iklim dan dapat menghasilkan produktivitas lebih tinggi dibandingkan monokultur.

Ke depan, Rosdiana berencana memperluas penelitiannya ke petani dan ingin mengembangkan implementasi berbasis komunitas. “Saya ingin hasil penelitian ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

(Buddha)



Berita Terkini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *