Jakarta, kepadaRopongMedia.id - Hajar Aswad - Hajar Aswad - Hajar Aswad yang terletak di sudut timur Ka'bah, Mekkah. Batu ini merupakan salah satu tempat suci menjelang haji dan umrah.
Jutaan umat Islam dari berbagai negara mencoba menyentuh atau mencium Hajar Aswad saat melakukan Tawaf. Perbuatan ini bukanlah sebuah kewajiban, namun Sunnah Nabi kita Muhammad SAW menunjukkan Sunnah tersebut.
Menurut tradisi Islam, jatuhnya batu hitam
Dalam sejarah Islam, batu hitam diyakini berasal dari surga. Konon batu tersebut diturunkan ke bumi oleh malaikat Jibril.
Pada mulanya batu hitam dikatakan berwarna putih. Lama kelamaan warnanya menjadi hitam karena dosa dan kesalahan orang yang menyentuhnya.
Ketika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sedang membangun Ka'bah, Ibrahim meletakkan batu hitam tersebut.
Makna spiritual di balik batu hitam
Batu hitam tidak ditemukan, tetapi dipuja sebagai simbol ketaatan. Khalifah Umar bin Khattab pernah menegaskan bahwa sebuah batu tidak membawa manfaat atau bahaya tanpa izin Allah.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penghormatan terhadap hajar aswad bukan berarti memuja benda-benda tersebut.
Pandangan seorang ilmuwan tentang batu hitam
Selain aspek keagamaan, Hajar Aswad juga menarik perhatian para ilmuwan. Beberapa peneliti meyakini bahwa batu tersebut bukanlah material biasa.
Hipotesis paling umum adalah bahwa Hajar Aswad mungkin merupakan meteorit atau batu dari luar angkasa.
Sebagian besar studi tentang E. Sebuah studi oleh Thomsen yang diterbitkan pada tahun 1980 memberikan pencerahan baru atas temuan jurnal yang diterbitkan pada tahun 1912 oleh Thomsen di Websey, sebuah kawah Wabar yang mirip dengan Filipina.
Mereka mencatat kawah tersebut memiliki diameter lebih dari 100 meter. Di kawasan sekitarnya, peneliti menemukan pecahan beberapa batuan langka yang tersebar di gurun pasir. Pasir cair dan silikon dicampur dengan nikel.
Menurut Tomen, perpaduan bahan tersebut menghasilkan lapisan dalam berwarna putih, sedangkan bagian luarnya terbungkus cangkang berwarna hitam. Warna hitam tersebut diyakini disebabkan oleh ledakan unsur nikel dan ferrum (besi) di luar angkasa.
Namun hingga saat ini batu tersebut belum pernah diteliti secara langsung di laboratorium modern.
Batasan ilmu dan keimanan
Peluang penelitian muncul karena batu hitam tidak lagi dipilih. Faktor sakral dan etika keagamaan menjadi pertimbangan utama.
Oleh karena itu, hipotesis ilmiah hanyalah asumsi, bukan kesimpulan pasti.
Dan juga:
Sebelum ujian, berdoalah agar dimudahkan dalam mengerjakannya
Sains dan iman berjalan beriringan
Bagi umat Islam, keyakinan bahwa Hajar Aswad berasal dari surga tidak bergantung pada bukti ilmiah.
Di sisi lain, sains hadir sebagai upaya untuk memahami sifat fisiknya tanpa menolak nilai spiritualnya.
Keduanya bisa saling melengkapi dan mendekatkan kita tanpa saling menolak.
Bukan sekedar Hajar Aswad, namun Hajar Aswad merupakan saksi kemanusiaan, ibadah dan perjalanan ibadah selama ribuan tahun.
Kemajuan ilmu pengetahuan, batu hitam masih menjadi misteri yang belum terjawab.
(Dist.)
Berita Terkini